Perokok Adalah Orang yang Egois Desember 13, 2008
Posted by joeismail in Kesehatan.Tags: Rokok
3 comments
MERASA terganggu oleh asap rokok di ruang tunggu terminal, Asti menegur seorang lelaki di sampingnya yang sedang asyik merokok. “Mas, mau nggak Anda menelan permen yang telah saya kunyah ini?”
Lelaki itu merasa heran, “Ya, tentu saja saya tidak mau?”
“Kenapa?”
“Saya tidak mau memakan sesuatu yang keluar dari mulut Anda.”
“Lalu mengapa Anda membiarkan saya menghisap asap rokok yang telah keluar dari mulut Anda?”
Mungkin apa yang dirasakan oleh Asti tadi pernah juga dialami oleh kita, terganggu dengan asap rokok orang lain, sementara Sang Perokok sendiri tak perduli bahwa ulahnya tersebut mengganggu orang lain. Padahal asap rokok kecuali mengganggu ternyata juga berbahaya bagi kesehatan. Memang suatu hal yang tidak adil bagi orang yang terpaksa harus menghirup asap rokok dari orang-orang sekelilingnya yang merokok.
Padahal fakta membuktikan, asap yang dihisap perokok (mainstream smoke), besarnya hanya 4 persen saja, sedangkan asap rokok yang dikeluarkan rokok terbakar saat tidak dihisap (sidestream smoke) mencapai 96 persen dari total massa pembakaran rokok.
Di sini sidestream smoke lebih berbahaya daripada mainstream smoke. Pasalnya sidestream smoke keluar ke udara tanpa saringan dan mengeluarkan zat racun lebih banyak. Asap rokok diketahui telah mengandung sekitar 4.000 bahan kimiawi, dimana 60 diantaranya diketahui dapat menyebabkan kanker. Tak heran jika pengaruh asap rokok pada perokok pasif itu tiga kali lebih buruk daripada debu batu bara.
Penyakit yang dapat diderita perokok pasif ini tidak lebih baik dari perokok aktif, malah lebih buruk lagi. Perokok pasif menjadi mudah menderita kanker, penyakit jantung, paru dan penyakit lainnya yang mematikan. Mereka yang dikelilingi oleh asap rokok akan lebih cepat meninggal dibanding mereka yang hidup dengan udara bersih dengan angka kematiannya meningkat 15% lebih tinggi.
Dari penelitian terhadap 1.263 pasien kanker paru-paru yang tidak pernah merokok, terlihat bahwa mereka yang menjadi perokok pasif di rumah akan meningkatkan risiko kanker paru-paru hingga 18 %. Bila hal ini terjadi dalam waktu yang lama, 30 tahun lebih, risikonya meningkat menjadi 23 %. Bila menjadi perokok pasif di lingkungan kerja atau kehidupan sosial, risiko kanker paru-paru akan meningkat menjadi 16 % sedang bila berlangsung lama, hingga 20 tahun lebih, akan meningkat lagi risikonya menjadi 27%.
Sedangkan pada janin, bayi dan anak-anak mempunyai risiko yang lebih besar untuk menderita kejadian berat badan lahir rendah, bronchitis dan pneumonia, infeksi rongga telinga dan asthma. Pemerintah Amerika sendiri memperkirakan bahwa setiap tahunnya terjadi 3.000 kematian akibat kanker paru-paru pada mereka yang tidak merokok sebagai akibat menjadi perokok pasif. Sementara di China disebutkan bahwa penyakit jantung koroner pada perempuan yang suaminya perokok sekitar 24 persen lebih tinggi dibandingkan dengan yang suaminya tidak merokok. Angka ini meningkat sampai 85 persen bila perempuan itu juga menjadi perokok pasif di tempat kerjanya.
Dengan besarnya jumlah dan tingginya presentase penduduk yang mempunyai kebiasaan merokok, Indonesia merupakan konsumen rokok tertinggi ke lima di dunia pada tahun 2002 dengan 182 milyar batang rokok setiap tahunnya setelah Republik Rakyat China (1.697.291milyar), Amerika Serikat (463,504 milyar), Rusia (375.000 milyar) dan Jepang (299.085 milyar).
Menutup pabrik rokok jelas bukanlah solusi yang baik, malah tampaknya suatu hal yang mustahil. Mengingat industri rokok telah menyediakan jutaan lapangan kerja bagi masyarakat, di samping telah menyumbang devisa yang tidak kecil bagi negara. Sebagai contoh saja, pabrik rokok Gudang Garam di Kediri telah menyumbang 70 % pendapatan pemerintah kota, dari sini bisa kita lihat betapa besarnya kontribusi Gudang Garam terhadap pembangunan kota Kediri. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila tiba-tiba pemerintah menutup Gudang Garam…
Namun dengan terbitnya tentang larangan merokok di tempat umum di beberapa Pemda patut kita dukung. Kebijakan untuk merelokalisir para perokok dengan menyediakan smoking room adalah sebuah jalan tengah baik yang perlu dipikirkan pemerintah.